Tampilkan postingan dengan label Geoscience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geoscience. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Januari 2014

PETA ANALISIS BANJIR SUBANG


Peta ini hasil analisis banjir Kab. Subang dari data bulan Januari 2013. Dari hasil analisis saya, didapatkan zona-zona banjir terakumulasi pada topografi yang lebih rendah dari sekitarnya (area lembahan) yang dekat dengan area pertemuan 2 aliran sungai (junction) dan area belokan sungai (meandering). Kedua area tersebut (junction&meandering) merupakan area potensi terjadi luapan sungai ketika volume dan debit air melebihi kapasitas sungai yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan penyempitan lebar sungai di sekitar pemukiman.


Area tangkapan air (catchment) yang berada di sekitar Desa Kadawung, Chambulu, Karangmukti, Wantilan, dan Marengmang
yang merupakan hulu dari sungai-sungai di Kabupaten subang ini sebagian besar merupakan area pesawahan tadah hujan dengan vegetasi yang sangat minim bahkan tidak ada. Jenis catchment seperti ini ketika terjadi hujan deras yang cukup lama, menyebabkan akumulasi air akan langsung disalurkan ke sungai-sungai bertipe dendritik tersebut tanpa ada area resapan air yang baik di area hulu karna tidak adanya vegetasi (pohon-pohon) yang dapat berfungsi sebagai area resapan air.

Kurangnya area resapan akan menyebabkan tingginya proses sedimentasi di sepanjang aliran sungai sehingga proses pendangkalan akan cepat pula. Material Sedimen sungai (pasir&lempung) biasanya terakumulasi pada area meandering sungai sehingga area ini biasanya mengalami akumulasi sedimen yang lebiih banyak dibanding area sungai lainnya. Maka sangat penting untuk menjaga area meandering tetap memiliki lebar sungai yang cukup luas untuk mengakomodasi penumpukan sedimen tersebut. Ketika area menadering ini dijadikan area pemukiman, maka akan menambah sempit lebar zona meander sungai akibat tempat buangan sampah dan lainnya. Padahal area belokan sungai (meandering) merupakan area potensial terjadinya luapan sungai ketikan volume dan debit air melebihi kapasitas sungai, maka tidak heran pemukiman disekitar area meandering akan mengalami kebanjiran.

Tipe sungai di Kab. Subang bagian utara ini sebagian besar bertipe dendritik, sehingga akan banyak zona pertemuan 2 aliran sungai (junction) yang juga merupakan area potensi luapan sungai. 


Dari peta persebaran zona-zona potensi banjir, terlihat bahwa potensi banjir berada pada area-area belokan sungai (meandering) dan area pertemuan 2 aliran sungai (junction) yang dekat dengan pemukiman warga. Selain itu zona potensi banjir juga terakumulasi pada area lembahan atau area dengan topografi yang rendah dibanding area sekitarnya. Hal ini terjadi karena ketika luapan sungai terjadi pada area junction dan meandering, maka luapan air akan mengalir ke area yang lebih rendah (lembahan) yang kemudian air tersebut terakumulasi disana dan terjadilah banjir.

Adapun solusi agar banjir ini tidak lagi terjadi adalah sebagai berikut:
  1. Lakukan perombakan area pertemuan dua sungai (junction) menjadi aliran yang searah (tidak tegak lurus), sehingga tidak akan terjadi penahanan aliran sungai satu oleh aliran sungai lainnya yang berakibat pada pembalikan aliran sungai. Selain itu perlu dilakukan pelebaran pada area junction tersebut karna pada area ini terjadi pertemuan 2 sungai yang berarti terdapat penjumlahan dua debit air, yang mana semakin besar luas penampang sungai akan memperlambat kecepatan dari laju aliran sungai seperti berlaku pada persamaan berikut : v = Q/A dimana v = kecepatan rata-rata aliran sungai, Q = debit, dan A = luas penampang. 
  2. Hindari penggunaan aliran sungai terutama pada area belokan sungai (meandering) sebagai tempat pembuangan sampah dan lakukan pelebaran pada zona meandering tersebut. 
  3. lakukan penghijauan dan pelebaran area resapan air di sepanjang aliran sungai untuk mengurangi potensi luapan air dan mengurangi proses sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan sungai. 








Jumat, 18 Januari 2013

Analisis Penyebab Banjir di Dusun Bugel Ds. Pringkasap Kec. Pabuaran Subang

Warga Kp. Bugel Ds.Pringkasap kec. Pabuaran Kab. Subang mencoba peruntungan rizki dengan menjala ikan disekitar pekarangan rumahnya disaat bencana banjir melanda area tersebut sore ini (18/01/13). Banjir ini terjadi lagi setelah pernah terjadi puluhan tahun yang lalu. Bisa diperkirakan hal ini merupakan siklus banjir yang terjadi di area tersebut.

 Dari analisis saya dalam hal geomorfologi, area perbatasan Krajan-Bugel merupakan area cekungan dimana secara garis kontur merupakan area dengan topografi terendah (lembahan) yang tentunya rentan terhadap bencana banjir. Selain itu Kp. Bugel hingga krajan-Pringkasap dilewati oleh aliran sungai tadah hujan (selokan) yang memiliki hulu di area Pasirangin dengan bentang alam berupa pesawahan tadah hujan yang berfungsi sebagai area tangkapan air hujan (Catchment). Sehingga selokan ini berfungsi sebagai penyalur air dari Catchment Pasirangin jika terjadi banjir atau penumpukan air di area pesawahan Pasirangin yang secara topografi merupakan area dataran rendah. Selokan tersebut alirannya sangat dipengaruhi oleh besar-kecilnya curah hujan yang terjadi, sehingga sangat penting fungsinya sebagai pengontrol aliran air hujan, selain tentunya sebagai penyuplai pengairan area pesawahan di daerah tersebut.

Perbatasan Krajan-Bugel juga dekat dengan pertemuan 2 sungai (Junction) antara selokan dan Sungai Cijengkol. Aliran selokan ini bertemu dengan aliran sungai yang lebih besar, sungai Cijengkol di Jembatan Warudoyong. Sungai Cijengkol merupakan aliran sungai yang alirannya dipengaruhi curah hujan. Sehingga baik Sungai Cijengkol maupun selokan akan dipenuhi air ketika curah hujan tinggi. Aliran air dari selokan pada area junction, memotong tegak lurus aliran sungai Cijengkol. Hal ini menjadi salah satu penyebab pula dari bencana banjir tersebut. Ketika curah hujan tinggi, maka baik Sungai Cijengkol maupun selokan akan dipenuhi air dengan debit air yang besar dan arus yang cukup kuat. Karena Sungai Cijengkol memiliki volume dan debit air yang lebih besar dari pada selokan, maka pada area Junction yang alirannya tepat memotong tegak lurus aliran sungai Cijengkol akan terjadi pembalikan arus dari aliran selokan. Hal ini terjadi karna arus, debit dan level air selokan yang lebih rendah dari sungai Cijengkol, tidak mampu menembus dan masuk kedalam aliran sungai Cijengkol. Dengan adanya sifat air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat yg lebih rendah, maka aliran selokan dari hulu (Pasirangin) dan aliran arus balik selokan dari area junction (Jembatan Warudoyong) akan terakumulasi di area dengan topografi terendah, yaitu di perbatasan Krajan-Bugel. Alhasil terjadilah bencana banjir di area tersebut.


Adanya pendangkalan dan penyempitan aliran selokan juga menjadi penyebab utama banjir terjadi. Banyaknya belokan sungai pada selokan yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, menambah proses penyempitan dan pendangkalan sungai Selokan menjadi lebih parah. Salah satu contohnya adalah belokan sungai selokan dekat tempat penggilingan padi Kp. Bugel. Area belokan sungai ataupun meander merupakan salah satu area penumpukan dan pengendapan sedimen sungai yang kita kenal dengan istilah point bar. Sehingga area pada bagian sungai tersebut memiliki waktu penyempitan dan pendangkalan sungai yang lebih cepat dibanding bagian sungai yang lainnya. Ketika area belokan ini dijadikan tempat pembuangan sampah maka akan semakin mempercepat lagi proses penyempitan dan pendangkalannya. Hal ini harus dihindari, karna seharusnya pada area belokan sungai memiliki lebar sungai yang lebih besar dibandingkan dengan area lainnya. Sehingga memiliki ruang yang cukup untuk menampung sedimen sungai (point bar) yang terendapkan di area ini. Disamping itu area belokan sungai dan meander merupakan area terjadinya luapan sungai jika volume air lebih besar dari pada volume sungai.

Sungai Cijengkol memiliki catchment berupa area pesawahan tadah hujan (Karangmukti, Kadawung,  Kosar dan Marengmang) yang artinya untuk daerah hulu tidak memiliki area resapan. Hal tersebut menjadikan sedimen (soil, lempung dan pasir) yang terbawa arus air menjadi cukup banyak, yang berakibat pada tingginya proses sedimentasi di sepanjang aliran sungai tersebut. Maka salah satu kontrol sebagai area resapan adalah disepanjang aliran sungai Cijengkol tersebut. Jika dilihat dari citra satelit, daerah bantaran sungai Cijengkol di sekitar Dsn. Bugel memiliki vegetasi yang sedikit yang berarti memilki area resapan yang minim untuk dapat mengontrol aliran sungai Cijengkol di area tersebut. Hal ini menjadi penyebab terjadinya luapan air di area tersebut, terutama pada area meander dengan sedikit vegetasi (pepohonan) yang berfungsi sebagai area resapan air.

Bentuk junction atau pertemuan selokan dengan Sungai Cijengkol yang tidak melebar (sempit) juga turut andil dalam menyebabkan bencana banjir.

Besar-kecilnya area yang terendam banjir tergantung dari seberapa besar curah hujan yang terjadi dan seberapa baik kedua sungai tersebut dalam menampung aliran dan debit air yang ada. Selain itu juga keadaan topografi menjadi pengontrol utama suatu area akan terkena dampak banjir atau tidak. Jika dilihat dari pengamatan topografi, area Bugel memiliki topografi yang meninggi ke arah barat dan memiliki level terendah pada perbatasan Krajan-Bugel. Begitupun halnya untuk area sebelah utara Bugel dari perbatasan, memiliki topografi rendah yang rentan terhadap bencana banjir. Maka dibutuhkan kewaspadaan untuk warga di area tersebut terhadap bencana banjir yang sewaktu-waktu bisa terjadi pada musim hujan ini.

 Adapun solusi agar banjir ini tidak lagi terjadi adalah sebagai berikut:

 1.Perbaiki dan lakukan pelebaran dan pengerukan aliran Sungai Selokan agar fungsinya sebagai sungai penyalur air dari area tangkapan air hujan (Catchment) dapat bekerja maksimal.

 2.Lakukan perombakan area pertemuan dua sungai (junction) menjadi aliran yang searah (tidak tegak lurus), yaitu baik aliran selokan maupun sungai Cijengkol berarah ke timur sehingga tidak akan terjadi penahanan aliran selokan oleh sungai Cijengkol yang berakibat pada pembalikan aliran selokan. Selain itu perlu dilakukan pelebaran pada area junction tersebut, karna pada area ini terjadi pertemuan 2 sungai yang berarti terdapat penjumlahan dua debit air, yang mana semakin besar luas penampang sungai akan memperlambat kecepatan dari laju aliran sungai seperti berlaku pada persamaan berikut : v = Q/A dimana v = kecepatan rata-rata aliran sungai, Q = debit, dan A = luas penampang.

 Penampang sebelm dan sesudah perombakan pada area junction

3.Hindari penggunaan aliran sungai terutama pada area belokan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
4. lakukan penghijauan dan pelebaran area resapan air di sepanjang aliran sungai Cijengkol untuk mengurangi potensi luapan air.


Analisis potensi banjir di Perbatasan Kp. Bugel dan Kp. Krajan, Ds. Pringkasap Kec. Pabuaran Kab. Subang 

 Warga bergotong royong memindahkan sepeda motor milik salah satu warga

Sumber gambar :
https://www.facebook.com/masjid.alikhlas.94?fref=ts
http://aditgeoholic.blogspot.com/2011_06_01_archive.html

Sabtu, 06 Desember 2008

Foto-Foto Field Trip Geologi Dasar (Lanjutan)


Kenampakan bidang perlapisan pada tubuh batugamping di lokasi G. Kampak, Bayat Klaten yang menandakan tempat ini dahulu kala merupakan daerah laut dangkal, tempat terendapkannya batugamping berlapis dan terumbu.

Kenampakan jurang menggantung di lokasi G. Kampak, Bayat Klaten akibat penambangan oleh warga sekitar. Bentang alam seperti ini rawan terjadi longsor sehingga dapat membahayakan para penambang tersebut.

Kenampakan Geomorfologi dan praktikan yang keren...(hahaha...)

Kenampakan efek bakar pada tubuh batulempung yang terkena intrusi batuan beku diorit dengan tipe intrusi berupa sill.

Kenampakan batuan beku diorit yang mengalami pelapukan membola.

 Singkapan batuan metamorf berupa marmer di Bayat Klaten. Marmer terbentuk dari proses metamorfisme pada batuan induk batugamping (karbonat).

 Singkapan batuan metamorf berupa kuarsit di Bayat Klaten. Kuarsit terbentuk dari proses metamorfisme pada batuan induk batupasir kuarsa.

Singkapan batuan metamorf berupa filit-sekis di Bayat Klaten. Filit-sekis ini terbentuk dari proses metamorfisme pada batuan induk batulempung.

Biar lebih jelasnya berikut saya cantumkan gan link downloadan laporan fieldtrip geologi dasarnya.
Chekibrot....! semoga bermanfaat... ^_^

http://www.4shared.com/office/I-EI65LT/laporan_fieltrip_geologi_dasar.html





Foto-foto field trip Geologi Dasar





Keterangan Gambar:
1. batuan metamorf berupa marmer di daerah Bayat Klaten. Marmer ini terbentuk dari hasil proses metamorfisme (suhu dan tekanan tinggi) pada batuan asal berupa batuan karbonat (batugamping).
2. batuan metamorf berupa Filit-sekis dengan kandungan mika di daerah bayat klaten. Filit sekis ini terbentuk dari hasil porses metamorfisme pada batuan asal berupa batulempung maupun lanau dengan kandungan mika yg cukup banyak sehingga terlihat adanya kilauan mika pada batu filit-sekis tersebut.
3. batugamping nummulites di daerah watuprahu Bayat Klaten. Batuan sedimen ini terbentuk setelah proses metamorfisme, sehingga memiliki usia lebih muda dari batuan metamorfnya.
4. Kenampakan gores garis pada bidang sesar sebagai indikasi adanya sesar pada batuan tersebut.
5. Efek bakar pada batulempung karna adanya intrusi sill yang mengisi diantara lapisan batulempung tersebut.  Kenampakan ini berada di bayat Klaten.
6. Pelapukan membola pada batuan beku diorit di Bayat Klaten.

Mineral kalsit yang tumbuh pada tubuh batugamping di Bayat Klaten. Kalsit ini terbentuk setelah batu gamping terbentuk lebih dulu kemudian terjadi kekar yang akhirnya air hujan melarutkan material karbonatan pada batugamping hingga mengisi kekar-kekar yang ada pada tubuh batugamping tersebut. Mineral kalsit ini tumbuh tegak lurus terhadap bidang kekar.

Calcite

Jumat, 05 Desember 2008

Batuan Beku

Batuan Beku
Batuan beku atau igneous rock adalah batuan yang terbentuk dari proses pembekuan magma di bawah permukaan bumi atau hasil pembekuan lava di permukaan bumi. Menurut para ahli seperti Turner dan Verhoogen (1960), F. F Groun (1947), Takeda (1970), magma didefinisikan sebagai cairan silikat kental yang pijar terbentuk secara alamiah, bertemperatur tinggi antara 1.500–2.5000C dan bersifat mobile (dapat bergerak) serta terdapat pada kerak bumi bagian bawah. Dalam magma tersebut terdapat beberapa bahan yang larut, bersifat volatile (air, CO2, chlorine, fluorine, iron, sulphur, dan lain-lain) yang merupakan penyebab mobilitas magma, dan non-volatile (non-gas) yang merupakan pembentuk mineral yang lazim dijumpai dalam batuan beku.
Pada saat magma mengalami penurunan suhu akibat perjalanan ke permukaan bumi, maka mineral-mineral akan terbentuk. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa penghabluran. Berdasarkan penghabluran mineral-mineral silikat (magma), oleh NL. Bowen disusun suatu seri yang dikenal dengan Bowen’s Reaction Series.
Dalam mengidentifikasi batuan beku, sangat perlu sekali mengetahui karakteristik batuan beku yang meliputi sifat fisik dan komposisi mineral batuan beku. Dalam membicarakan masalah sifat fisik batuan beku tidak akan lepas dari:

Tekstur
Tekstur didefinisikan sebagai keadaan atau hubungan yang erat antar mineral-mineral sebagai bagian dari batuan dan antara mineral-mineral dengan massa gelas yang membentuk massa dasar dari batuan. Tekstur pada batuan beku umumnya ditentukan oleh tiga hal yang penting, yaitu:
Kristalinitas
Kristalinitas adalah derajat kristalisasi dari suatu batuan beku pada waktu terbentuknya batuan tersebut. Kristalinitas dalam fungsinya digunakan untuk menunjukkan berapa banyak yang berbentuk kristal dan yang tidak berbentuk kristal, selain itu juga dapat mencerminkan kecepatan pembekuan magma. Apabila magma dalam pembekuannya berlangsung lambat maka kristalnya kasar. Sedangkan jika pembekuannya berlangsung cepat maka kristalnya akan halus, akan tetapi jika pendinginannya berlangsung dengan cepat sekali maka kristalnya berbentuk amorf.
Dalam pembentukannnya dikenal tiga kelas derajat kristalisasi, yaitu:
Holokristalin, yaitu batuan beku dimana semuanya tersusun oleh kristal.
Tekstur holokristalin adalah karakteristik batuan plutonik, yaitu mikrokristalin yang telah membeku di dekat permukaan.
Hipokristalin, yaitu apabila sebagian batuan terdiri dari massa gelas dan sebagian lagi terdiri dari massa kristal.
Holohialin, yaitu batuan beku yang semuanya tersusun dari massa gelas. Tekstur holohialin banyak terbentuk sebagai lava (obsidian), dike dan sill, atau sebagai fasies yang lebih kecil dari tubuh batuan.
Granularitas
Granularitas didefinisikan sebagai besar butir (ukuran) pada batuan beku. Pada umumnya dikenal dua kelompok tekstur ukuran butir, yaitu:
Fanerik/fanerokristalin
Besar kristal-kristal dari golongan ini dapat dibedakan satu sama lain secara megaskopis dengan mata biasa. Kristal-kristal jenis fanerik ini dapat dibedakan menjadi:
Halus (fine), apabila ukuran diameter butir kurang dari 1 mm.
Sedang (medium), apabila ukuran diameter butir antara 1 – 5 mm.
Kasar (coarse), apabila ukuran diameter butir antara 5 – 30 mm.
Sangat kasar (very coarse), apabila ukuran diameter butir lebih dari 30 mm.
Afanitik
Besar kristal-kristal dari golongan ini tidak dapat dibedakan dengan mata biasa sehingga diperlukan bantuan mikroskop. Batuan dengan tekstur afanitik dapat tersusun oleh kristal, gelas atau keduanya. Dalam analisa mikroskopis dapat dibedakan:
Mikrokristalin, apabila mineral-mineral pada batuan beku bisa diamati dengan bantuan mikroskop dengan ukuran butiran sekitar 0,1 – 0,01 mm.
Kriptokristalin, apabila mineral-mineral dalam batuan beku terlalu kecil untuk diamati meskipun dengan bantuan mikroskop. Ukuran butiran berkisar antara 0,01 – 0,002 mm.
Amorf/glassy/hyaline, apabila batuan beku tersusun oleh gelas.

Bentuk Kristal
Bentuk kristal adalah sifat dari suatu kristal dalam batuan, jadi bukan sifat batuan secara keseluruhan. Ditinjau dari pandangan dua dimensi dikenal tiga bentuk kristal, yaitu:
Euhedral, apabila batas dari mineral adalah bentuk asli dari bidang kristal.
Subhedral, apabila sebagian dari batas kristalnya sudah tidak terlihat lagi.
Anhedral, apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli.
Ditinjau dari pandangan tiga dimensi, dikenal empat bentuk kristal, yaitu:
Equidimensional, apabila bentuk kristal ketiga dimensinya sama panjang.
Tabular, apabila bentuk kristal dua dimensi lebih panjang dari satu dimensi
yang lain.
Prismitik, apabila bentuk kristal satu dimensi lebih panjang dari dua dimensi yang lain.
Irregular, apabila bentuk kristal tidak teratur.
Hubungan Antar Kristal
Hubungan antar kristal atau disebut juga relasi didefinisikan sebagai hubungan antara kristal/mineral yang satu dengan yang lain dalam suatu batuan. Secara garis besar, relasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
Equigranular, yaitu apabila secara relatif ukuran kristalnya yang membentuk batuan berukuran sama besar. Berdasarkan keidealan kristal-kristalnya, maka equigranular dibagi menjadi tiga, yaitu:
Panidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang euhedral.
Hipidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang subhedral.
Allotriomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang anhedral.
Inequigranular, yaitu apabila ukuran butir kristalnya sebagai pembentuk batuan tidak sama besar. Mineral yang besar disebut fenokris dan yang lain disebut massa dasar atau matrik yang bisa berupa mineral atau gelas.
Struktur
Struktur adalah kenampakan batuan secara makro yang meliputi kedudukan lapisan yang jelas/umum dari lapisan batuan. Struktur batuan beku sebagian besar hanya dapat dilihat dilapangan saja, misalnya:
Pillow lava atau lava bantal, yaitu struktur paling khas dari batuan vulkanik bawah laut, membentuk struktur seperti bantal.
Joint struktur, merupakan struktur yang ditandai adanya kekar-kekar yang tersusun secara teratur tegak lurus arah aliran.
Sedangkan struktur yang dapat dilihat pada contoh-contoh batuan (hand speciment sample), yaitu:

Masif, yaitu apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran, jejak gas (tidak menunjukkan adanya lubang-lubang) dan tidak menunjukkan adanya fragmen lain yang tertanam dalam tubuh batuan beku.
Vesikuler, yaitu struktur yang berlubang-lubang yang disebabkan oleh keluarnya gas pada waktu pembekuan magma. Lubang-lubang tersebut menunjukkan arah yang teratur.
Skoria, yaitu struktur yang sama dengan struktur vesikuler tetapi lubang-lubangnya besar dan menunjukkan arah yang tidak teratur.
Amigdaloidal, yaitu struktur dimana lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral sekunder, biasanya mineral silikat atau karbonat.
Xenolitis, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya fragmen/pecahan batuan lain yang masuk dalam batuan yang mengintrusi.
Pada umumnya batuan beku tanpa struktur (masif), sedangkan struktur-struktur yang ada pada batuan beku dibentuk oleh kekar (joint) atau rekahan (fracture) dan pembekuan magma, misalnya: columnar joint (kekar tiang), dan sheeting joint (kekar berlembar).

Komposisi Mineral
Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku, cukup dengan mempergunakan indeks warna dari batuan kristal. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
Mineral felsik, yaitu mineral yang berwarna terang, terutama terdiri dari mineral kwarsa, feldspar, feldspatoid dan muskovit.
Mineral mafik, yaitu mineral yang berwarna gelap, terutama biotit, piroksen, amphibol dan olivin.
Batuan beku dapat diklasifikasikan berdasarkan cara terjadinya, kandungan SiO2, dan indeks warna. Dengan demikian dapat ditentukan nama batuan yang berbeda-beda meskipun dalam jenis batuan yang sama, menurut dasar klasifikasinya.

Klasifikasi berdasarkan cara terjadinya, menurut Rosenbusch (1877-1976) batuan beku dibagi menjadi:

Effusive rock, untuk batuan beku yang terbentuk di permukaan.
Dike rock, untuk batuan beku yang terbentuk dekat permukaan.
Deep seated rock, untuk batuan beku yang jauh di dalam bumi. Oleh W.T. Huang (1962), jenis batuan ini disebut plutonik, sedang batuan effusive disebut batuan vulkanik.
Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO2 (C.L. Hugnes, 1962), yaitu:

Batuan beku asam, apabila kandungan SiO2 lebih dari 66%. Contohnya adalah riolit.
Batuan beku intermediate, apabila kandungan SiO2 antara 52% - 66%. Contohnya adalah dasit.
Batuan beku basa, apabila kandungan SiO2 antara 45% - 52%. Contohnya adalah andesit.
Batuan beku ultra basa, apabila kandungan SiO2 kurang dari 45%. Contohnya adalah basalt.
Klasifikasi berdasarkan indeks warna ( S.J. Shand, 1943), yaitu:


Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30% mineral mafik.
Mesococtik rock, apabila mengandung 30% - 60% mineral mafik.
Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60% mineral mafik.
Sedangkan menurut S.J. Ellis (1948) juga membagi batuan beku berdasarkan indeks warnanya sebagai berikut:

Holofelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna kurang dari 10%.
Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10% sampai 40%.
Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40% sampai 70%.
Mafik, untuk batuan beku dengan indeks warna lebih dari 70%.

(from: kenali bumi kita)